Terima
Kasih Ayah Keringatmu Sangat Menginspirasiku
Naela Zulianti Ashlah
Ayahku,
cinta pertamaku pada kaum Adam. Betapa luar biasa Dzat Yang Maha Berkehendak. Walau tak ada satu pun manusia yang bisa request akan
menjadi anak siapa, tetapi aku bersyukur sepenuh hati, Allah takdirkan aku
lahir dari sosok pria luar biasa. Sosok yang menjadi
idola hidupku sepanjang masa. Ayah yang tidak hanya punya etos kerja yang tinggi, tetapi juga sangat
detil dalam memanfaatkan waktu
dan mengatur kegiatan hariannya. Salah satu karunia Allah terbesar dalam
hidup beliau adalah berupa suara yang indah. Yang dengan kelebihan itu, beliau
dapat bermanfaat bagi umat. Lima kali dalam sehari, beliau kemandangkan azan
untuk memanggil umat pergi ke masjid dekat rumah untuk tunaikan salat
berjamaah. Suara beliau yang merdu dan dengan berbagai variasi nada, telah
membersamai masyarakat di kampungku dalam menjalankan kewajibannya kepada
Rabbul’alamiin.
Saat
aku masih kecil, kami tinggal bersama Nenek Kholifah, ibunda ayahku yang
kebaikannya akan kuiingat sepanjang sisa hidupku. Selain itu, ada juga Mbah
Buyut Kanah, ibunda Nenek Kholifah yang berjasa besar dalam kehidupan kami dan Pakdhe
Nur Kholis, kakak ayahku. Prinsip disiplin benar-benar diterapkan Nenek
Kholifah yang
berprofesi sebagai pedagang. Salat berjamaah di masjid menjadi keharusan yang
jika kami tidak segera berangkat, maka
tak lama kemudian akan ada air tahu yang melayang.
Upaya
ayah dalam menjaga kedekatan dengan Allah, adalah ikhtiar penting beliau dalam
menjalani hidup berkeluarga. Semangat bertaat kepada Allah ini beliau tularkan
kepada keluarga yang terdiri atas mama Siti Maf’ulah, aku, dan adik Rahmat.
Terlebih dahulu ayah berangkat ke Masjid As-Syaribah untuk mengumandangkan
azan. Ajakan yang mampu menggerakkan kami untuk segera berwudhu dan berangkat menuju
masjid untuk salat berjamaah.
Beliau termasuk siswa aktif semasa bersekolah. Bahkan, guru, siswa, hingga wali
muridpun mudah mengenalnya. Riwayat pendidikan ayah, dimulai dari MI dan SMP Miftahul Ulum
Melirang Bungah Gresik. Lalu, Ayah melanjutkan sekolahnya di MAN 1 Gresik, yang
juga menjadi tempatku dan Adik Rahmat menuntut ilmu. Madrasah ini mempunyai motto:
Islami, Cerdas, Unggul, Kompetitif, dan Peduli Lingkungan sebagai pegangan erat
seumur hidup dalam kehidupan bermasyarakat.
1996, ayah memberanikan diri mulai bekerja sejak
lulus MAN 1 Gresik.
Setiap hari berangkat kerja dengan penuh semangat dan keikhlasan untuk mencapai
target yang sudah beliau tetapkan. Berupaya sungguh-sungguh agar setiap langkahnya dalam bekerja dapat terlaksana secara optimal.
Sebuah
anugerah Dzat Yang Maha Esa, diberikan kepada ayah melalui kepercayaan
Perusahaan New Era untuk dapat meningkatkan kualitas profesional kerja beliau.
Pelatihan bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang diselenggarakan selama
tiga hari oleh Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kota Surabaya dan alhamdulillah
ayah menjadi lulusan terbaik pertama. Buah dari perjuangan beliau yang tidak
cukup tidur di setiap malamnya karena menyelesaikan tugas tertulis.
Konsistensi
bekerja yang diterapkan ayah menggugah semangatku dan adik Rahmat untuk bersungguh-sungguh
dalam belajar. Ayah dan Mama tetap berangkat bekerja baik cuaca panas maupun
hujan. Banjir di jalan raya, normal, atau macet, waktunya bekerja tetap bekerja.
Beliau
tidak pernah menunjukkan wajah lelah di hadapan keluarga. Wajah ceria dengan
ribuan komedi, menjadi ciri khas ayahku. Sungguh menambah kedamaian dan
kebahagiaan dalam keluarga kecil kami. Harus tepat waktu dan berprestasi
menjadi motto utama beliau. Tiga langkah ke depan harus dipersiapkan dan
dipikirkan manfaatnya. Bagi ayah dan mama, hidup adalah ibadah untuk kehidupan
akhirat. Maka beliau dan mama sangat menghargai keseimbangan waktu antara
urusan kepada Rabbul ‘aalamiin dan sebagai manusia kepada sesamanya.
Pada
waktu aku kelas delapan, masa COVID-19, kualitas belajarku menurun. Tidak
menunggu lama, ayah dan mama memanggilku untuk mempertanggungjawabkan nilaiku.
Suasana malam itu sungguh menegangkan. Cemas disertai rasa takut juga khawatir
membayangkan yang akan terjadi. Ternyata, ayah menanyakan alasan dan proses apa
yang dapat aku perbaiki? Kala itu, aku juga mengalami penurunan kedisiplinan
salat berjamaah yang sering terlambat.
“Tirakat dan tidak lupa mendoakan siswa agar sukses, pintar, dan berprestasi. Bermanfaat
dan berkah ilmu agama untuk dunia sampai ke akhirat,” pesan Ayah padaku. “Apabila bisa hemat, mengapa boros (uang)? Apabila dapat cepat, mengapa kamu lambat?
Jika mampu sekarang, mengapa harus menunggu nanti atau besok? Tidak ada sedekah
itu sia-sia, pasti akan kembali kepada individu tersebut.” Demikian kalimat
motivasi yang senantiasa ayah pesankan.
Terima
kasih ayah untuk semua hal yang telah ayah lakukan dan teladankan untuk kami.
Sungguh menjadi pelajaran hidup berharga bagi Naela dan adik dalam menjalani
hidup di masa depan nanti. Semoga kelak, Naela bisa menjadi guru inspiratif
dengan teladan kebaikan yang tak pernah putus, seperti ayah.
Mengapa Naela sangat terinspirasi dari Ayahnya?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar