Mengajar dengan Kejutan dan Kebahagiaan
Tak Terhingga
Oleh Naela Zulianti Ashlah
Mulanya,
idolaku terhadap para guru dengan tahapannya yang mudah dipahami saat
mentransfer ilmu pengetahuan dan wawasan. Lentera mereka mampu menyinari
kehidupan siswa-siswinya. Berkah itu memang ada, dan terbukti. Dari yang
asalnya bercita-cita menjadi dokter karena menyukai materi dan praktik ilmu
pasti, seperti Fisika, Biologi, dan Matematika baik peminatan maupun wajib.
Saat ini, cita-cita itu berubah menjadi profesi yang memegang ujung tombak
generasi tunas bangsa. Terlebih, sekarang sedang gencar mempersiapkan Indonesia
Emas 2045. Terima kasih, ku ucapkan kepada Mama, Ayah, Adik, Bu Enny, Umik
Idah, Abigus, Umik Husnul, Abah, Guru, Dosen, dan semua insan yang mendukungku.
Tahukah
kalian, kesanku kepada para guru dengan prosedur mudah dipahami? Sering masa
itu aku merenung. Bagaimana cara guru-guru bisa menjadikan siswa mudah memahami
ilmu? Lalu, ada sedikit rasa, jika bisa paham dan mengaplikasikan ilmu-ilmu
pada kehidupan sehari-hari. Walaupun, mungkin, cuma sedikit. He he he he.
Lentera
mereka dapat menerangi kehidupan siswa-siswinya. Sebagai sosok mulia tanpa
tanda jasa, nasihat Beliau mengena ketika kita para siswa hendak melangkah.
Tegurannya juga ibarat benteng pertahanan istimewa multi guna. Harapan terbaik,
semoga senantiasa bisa mengaktualisasikannya.
Berkah
itu memang ada, dan terbukti. Berbagai kalimat dilangitkan kepada Dzat Pemilik
Semesta Alam. Selain itu, aku mencoba memberanikan diri dengan sedikit ilmu untuk
bertanya tentang les dari mbak-mbak Pondok Sabilillah. Nasihat para guru yang ku ingat semampuku
bahwa sebaik-baik orang itu pribadi yang bermanfaat untuk orang lain. Ditambah
Mama juga mendoakan karena beringinan kuat putrinya ini mentransfer ilmu kepada
orang lain disekitarnya.
Adanya
kepolosan, menggiatkanku tanpa malu berupaya tanya-tanya ke mbak-mbak
pondok. “Mbak, mungkin ada informasi les, bagi ya” tanyaku. Beberapa minggu
kemudian, Mbak Naila Alfi, mahasiswa angkatan 2023 program studi Managemen
Pendidikan memanggilku : "Nel, kesini!" Aku menjawab : "ada apa
Mbak?" “Mau tidak membimbing les siswa kelas 1 MI, cuma pengganti, Mbak
Diyah MBKM ke Malaysia?” tanya Mbak Naila Alfi. “Iya, mau Mbak.” jawabku dengan
super semangat.
Bahagianya,
hari pertama, aku diantar oleh Mbak Naila Alfi. Bara semangat datang mengumpul.
Partisipasi Kak Shaka, nama murid lesku menambah rasa haru saat itu.
Alhamdulillah, ternyata, karakteristik positifnya tekun.
Beberapa
bulan kemudian, tiba-tiba Kak Chicco, adiknya Kak Shaka juga bergabung les. Ada
juga kesempatan menjadi pengganti guru TPQ Lukman Hakim jilid PAUD, 1, 2, dan
AlQuran. MasyaAllah, nikmat apa yang engkau dustakan. Terima kasih, bu Enny, bu
Ulfi, dan semua dosen yang bersedia membimbingku sehingga tidak habis ide untuk
transfer ilmu.
Saat
ini, cita-citaku ingin sekali menjadi profesi yang memegang ujung tombak
generasi tunas bangsa. Perasaan senang tak terbendung. Ini sungguh anugerah
yang tidak semua orang diberi oleh Dzat Yang Kuasa. Semoga harapan baik ini
terwujud menjadi ibadah dan mengalir kebaikannya untuk putra-putriku kelak.
Perasaan
ceria bawaan siswa SD menutup semua kerisauanku. Serasa transfer
berlangsung antara guru dan siswa, termasuk ekspresinya. Segala penat hilang
begitu saja. Ini masih beberapa hari saja melalui observasi dan penelitian.
Senaaang,
jawaban siswa-siswi kelas 2 UPT SDN 252 Gresik, saat aku tanya perasaan
berangkat ke sekolah dengan kompak dan lantang. Mereka ternyata, menyambutku
dengan ceria seperti masih belum ada beban di wajah lucu mereka. “Bu, gambarkan
astonot!” permintaan mereka setelah aku menjelaskan materi pecahan. “Anak-anak,
lihat sini, bagus tidak gambarannya?” Aku bertanya kepada mereka. “Baguuuuss”
menjawab dengan polosnya. Rasa senang bisa mendampingi mereka semampuku.
Terima
kasih, ku ucapkan kepada Mama, Ayah, Adik, Bu Maryam, murobbi, guru,
dosen, dan semua insan yang mendukungku. Dzat Yang Maha Berkuasa, mengokohkan
tekadku dengan melengkapkan keluarga kecil dari cinta Mama dan Ayah, seorang
adik namanya Rahmat. “Terima kasih atas kesempatannya, menjadi Kakak.” ucapku
lirih pada Sang Pencipta Alam. Namun, apa yang saya capai selama ini, masih
harus belajar lagi untuk menjadi lebih baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar