Mengapa Implementasi Akhlak Istiqomah Penting
untuk Murid Sekolah Dasar
(Oleh: Naela Zulianti Ashlah)
Pendahuluan
Pentingnya Akhlak
Pendidikan akhlak memiliki peran yang sangat penting untuk membekali
karakter positif murid sekolah dasar sebagai pedoman kehidupan sosial. Pada
bidang pendidikan dasar, akhlak merupakan seperangkat nilai yang tertanam kuat
pada jiwa warga belajar termasuk murid sekolah dasar, yang dapat diamati
melalui pola perkataan dan perbuatan. Apabila perkataan dan perbuatan murid baik, maka seharusnya diistiqomahkan.
Namun sebaliknya, jika perkataan dan perbuatan murid buruk, maka segera kita
sebagai gurunya, harus peduli dan memperbaiki dengan melalui nasihat guru, orang
tua, ataupun pembekalan melalui sosialisasi kepada murid secara menyeluruh. Pembekalan
akhlak menjadi sangat penting karena masa kanak-kanak merupakan tahap awal dan
paling menentukan dalam pembentukan kepribadian. Nilai-nilai yang ditanamkan
pada jenjang Sekolah Dasar cenderung menetap dan membentuk kebiasaan jangka
panjang hingga dewasa.
Salah satu jenis akhlak yang memiliki pengaruh besar yaitu istiqomah.
Istiqomah mempunyai keterkaitan dengan kedisiplinan, konsistensi antara
perkataan dan perbuatan, tanggung jawab, serta komitmen terhadap akhlak terpuji
lainnya. Akhlak istiqomah untuk murid sekolah dasar sangat penting sebagai pedoman berbuat baik di tengah
perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang cepat, berbagai persoalan
moral mulai muncul sejak usia sekolah, seperti terbiasa mencontek, belum
memiliki tanggung jawab terhadap tugas, serta masih rendahnya akhlak istiqomah
yang membutuhkan kestabilan berbuat baik sebagai penyeimbang kegiatan
belajar di sekolah dasar. Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan akhlak,
khususnya akhlak istiqomah, belum sepenuhnya diimplementasikan dengan baik.
Hadi, R. A. dan Suharyat, Y. (2022) menyatakan bahwa akhlak adalah sifat
yang tertanam dalam jiwa seseorang secara spontan melakukan perbuatan baik atau
buruk berdasarkan ajaran agama Islam berlandaskan Al-Quran dan hadis. Maksudnya,
akhlak mempunyai peran penting dalam menentukan apakah seseorang dapat
bertindak baik secara istiqomah, disiplin, dan jujur. Oleh sebab itu, istiqomah
sebagai salah satu akhlak positif yang sebaiknya ditanamkan secara
terstruktur mulai sekolah dasar. Esai ini mengulas mengapa akhlak istiqomah sangat
penting bagi murid sekolah dasar dengan mengkaji konsep akhlakul karimah, maksud
dan hikmah akhlak istiqomah, indikator istiqomah, serta tantangan
pada kehidupan nyata yang harus kita hadapi khususnya dalam dunia pendidikan
dasar.
Isi
Akhlakul karimah merupakan seperangkat moralitas yang melekat pada diri
seseorang, dapat diamati dari pola perkataan ataupun perbuatan bersifat positif.
Syafri et al. (2026) memaknai akhlak sebagai perangai, tabiat, kebiasaan,
rutinitas, sikap, serta watak dasar manusia yang tercermin dalam perilaku
sehari-hari dan menjadi bagian dari kepribadian yang melekat pada diri seseorang.
Adapun implementasi akhlak istiqomah yang dapat dilakukan oleh murid
sekolah dasar yang beriman misalnya sholat tepat waktu lima kali
sehari, membaca Quran minimal satu ayat setiap hari, membaca doa sebelum dan
sesudah belajar. Dengan demikian, akhlak melibatkan dimensi afektif, perkataan,
dan perilaku nyata, tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan tentang benar atau
salah.
Lukman et al. (2024) menguatkan bahwa akhlak istiqomah bukan hanya mengenai
“pelaksanaan kebaikan secara konsisten,” pada definisi etis, namun, juga mengenai
“kemampuan mempertahankan dan meningkatkan kualitas amal, komitmen, dan
nilai-nilai Islam secara berkelanjutan.” Akhlakul karimah dapat mengajarkan
bagaimana bersikap dan berperilaku terpuji terhadap orang lain. Berdasarkan
pengetahuan empiris, akhlakul istiqomah juga bisa menumbuhkan etos kerja
yang tinggi, disiplin, jujur, tanggung jawab, dan sebagai motivasi untuk meningkatkan
optimalisasi potensi dalam diri murid sekolah dasar. Akhlak merupakan perpaduan
antara kebaikan, kebenaran, moralitas, pedoman yang benar, serta kekuatan sikap
dan perilaku yang tercermin melalui perkataan dan aksi nyata seseorang.
Gagasan ini sejalan dengan filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang memberikan
pemahaman bahwa pendidikan harus bisa menjadi jembatan atau petunjuk yang
memudahkan manusia bisa berkembang secara utuh. Perkembangan akhlak yang
dimaksud yaitu sesuai dengan kodrat alam melalui pemanfaaatan potensi fisik ataupun
potensi cipta, potensi rasa, potensi raga, dan potensi hati khususnya bagi
murid sekolah dasar. Tujuan pemahaman penanaman akhlak yaitu supaya keempat potensi
tersebut menjadi nyata dan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Akhlak istiqomah menjadi perantara agar dapat mengintegrasikan keempat
domain tersebut supaya murid tidak hanya cepat tanggap secara intelektual,
namun juga matang secara etika dan mental.
Wang et al (2026) menyatakan bahwa akhlak yang baik terbentuk dari tiga
komponen yang saling terkait, yaitu pengetahuan moral (moral knowing),
perasaan moral (moral feeling), dan perilaku moral (moral behavior).
Ketiga komponen tersebut tidak dapat dipisahkan karena pengetahuan tanpa emosional
yang bersumber dari perasaan moral tidak akan mendorong perilaku moral,
sementara perilaku moral tanpa dasar pemahaman pendidikan moral dan perasaan
moral yang positif berpotensi kehilangan makna etika.
Makna dan Hakikat Akhlak Istiqomah
Akhlak istiqomah merupakan salah satu nilai karakter penting yang perlu
ditanamkan sejak usia sekolah dasar. Dalam perspektif pendidikan Islam,
istiqomah tidak hanya dimaknai sebagai konsistensi dalam melakukan kebaikan,
tetapi juga sebagai keteguhan hati dalam mempertahankan nilai-nilai kebenaran
meskipun menghadapi berbagai tantangan. Akhlak istiqomah menjadi fondasi yang
menguatkan karakter lain seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kerja
keras, dan komitmen moral.
Al-Ghazali menjelaskan bahwa akhlak merupakan sifat yang tertanam dalam
jiwa yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan
pertimbangan yang panjang. Dengan demikian, akhlak istiqomah dapat dipahami
sebagai kondisi kepribadian yang mendorong seseorang untuk secara konsisten
melakukan perbuatan baik berdasarkan nilai-nilai yang diyakininya. Akhlak tidak
hanya berkaitan dengan tindakan yang tampak, tetapi juga mencerminkan kualitas
batin yang menjadi sumber munculnya perilaku tersebut.
Dalam konteks pendidikan karakter, Wang et al. (2026) menjelaskan bahwa
pembentukan perilaku moral yang baik memerlukan keterpaduan antara moral
knowing (pengetahuan moral), moral feeling (perasaan moral), dan moral
behavior (perilaku moral). Ketiga komponen tersebut saling berkaitan dan tidak
dapat dipisahkan karena pemahaman terhadap nilai kebaikan harus disertai
penghayatan emosional serta diwujudkan dalam tindakan nyata yang konsisten.
Pandangan ini menunjukkan bahwa istiqomah bukan sekadar mengetahui apa yang
baik, melainkan juga memiliki kemauan dan kebiasaan untuk terus melakukannya
dalam kehidupan sehari-hari.
Istiqomah juga memiliki dimensi pengembangan diri yang kuat. Beberapa
kajian pendidikan Islam menjelaskan bahwa istiqomah tidak hanya berkaitan
dengan mempertahankan perilaku baik, tetapi juga berupaya meningkatkan kualitas
amal dan kinerja secara berkelanjutan. Dengan kata lain, seseorang yang
memiliki akhlak istiqomah tidak merasa cukup hanya dengan memenuhi standar
minimal kebaikan, tetapi terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari
waktu ke waktu.
Berdasarkan berbagai pandangan tersebut, akhlak istiqomah dapat disimpulkan
sebagai keteguhan dan konsistensi seseorang dalam menjalankan nilai-nilai
kebaikan yang tercermin melalui pikiran, sikap, perkataan, dan tindakan secara
berkelanjutan. Akhlak istiqomah menjadi landasan penting bagi terbentuknya
karakter yang kuat karena menghubungkan aspek pengetahuan, penghayatan, dan
praktik moral dalam kehidupan sehari-hari.
Unsur-Unsur Akhlak Istiqomah
Akhlak istiqomah bukanlah nilai tunggal, melainkan terdiri atas beberapa
unsur yang saling mendukung. Salah satu unsur utama adalah komitmen terhadap
kebenaran. Komitmen ini mendorong individu untuk tetap berpegang pada
nilai-nilai yang diyakini benar meskipun menghadapi tekanan dari lingkungan
sekitar. Murid yang memiliki komitmen terhadap kebenaran akan berusaha
menghindari perilaku curang, berani mengakui kesalahan, dan mempertahankan
sikap jujur dalam berbagai situasi.
Unsur berikutnya adalah kedisiplinan. Disiplin mencerminkan kemampuan
seseorang untuk mengatur diri, mematuhi aturan, dan melaksanakan kewajiban
secara konsisten. Pada usia sekolah dasar, disiplin dapat terlihat dari
kebiasaan datang tepat waktu, mengikuti aturan kelas, mengerjakan tugas secara
teratur, serta menjaga ketertiban selama proses pembelajaran berlangsung.
Tanggung jawab juga menjadi bagian penting dari akhlak istiqomah. Tanggung
jawab berkaitan dengan kesediaan seseorang untuk melaksanakan tugas dengan
sungguh-sungguh dan menerima konsekuensi atas tindakannya. Murid yang
bertanggung jawab tidak mudah menyalahkan orang lain ketika menghadapi
kegagalan, tetapi berusaha memperbaiki kesalahan dan belajar dari pengalaman
yang diperoleh.
Selain itu, ketekunan dan kerja keras merupakan indikator penting dalam akhlak istiqomah. Ketekunan membantu murid tetap berusaha mencapai tujuan meskipun menghadapi kesulitan. Sikap ini sangat dibutuhkan dalam proses belajar karena keberhasilan akademik maupun nonakademik tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui usaha yang dilakukan secara berulang dan berkesinambungan.
Pentingnya Akhlak Istiqomah bagi Murid Sekolah
Dasar
Sekolah Dasar merupakan fase penting dalam perkembangan karakter anak. Pada
tahap ini, anak mulai membentuk kebiasaan, nilai, dan pola perilaku yang
berpotensi bertahan hingga dewasa. Oleh karena itu, penanaman akhlak istiqomah
sejak dini menjadi sangat penting untuk membantu murid membangun fondasi moral
yang kuat.
Akhlak istiqomah berperan dalam membentuk kebiasaan positif yang
berkelanjutan. Anak yang terbiasa melakukan kebaikan secara konsisten akan
lebih mudah menjadikan perilaku tersebut sebagai bagian dari kehidupannya.
Sebaliknya, jika perilaku baik tidak dibiasakan sejak dini, anak berisiko
mengalami kesulitan dalam mengembangkan karakter positif pada tahap
perkembangan berikutnya.
Selain itu, akhlak istiqomah membantu murid menghadapi berbagai tantangan
moral yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena seperti mencontek,
berbohong, tidak mengerjakan tugas, atau melanggar aturan sekolah menunjukkan
pentingnya pembentukan karakter yang tidak hanya mengajarkan apa yang benar,
tetapi juga membiasakan murid untuk melaksanakan kebenaran tersebut secara
konsisten.
Akhlak istiqomah juga berkontribusi terhadap peningkatan prestasi belajar.
Murid yang memiliki kebiasaan disiplin, tekun, dan bertanggung jawab cenderung
lebih mampu mengelola waktu belajar, menyelesaikan tugas dengan baik, dan
mempertahankan motivasi dalam mencapai tujuan akademik. Dengan demikian,
istiqomah tidak hanya berdampak pada perkembangan moral, tetapi juga mendukung
keberhasilan pendidikan secara menyeluruh.
Di sisi lain, akhlak istiqomah berfungsi sebagai benteng dalam menghadapi
pengaruh negatif lingkungan. Perkembangan teknologi digital dan media sosial
memberikan berbagai peluang sekaligus tantangan bagi anak. Murid yang memiliki
keteguhan karakter akan lebih mampu menyaring informasi, mengendalikan diri,
dan mengambil keputusan yang sesuai dengan nilai-nilai moral yang telah
ditanamkan.
Implementasi Akhlak Istiqomah di Sekolah Dasar
Implementasi akhlak istiqomah perlu dilakukan secara sistematis melalui
pembelajaran, budaya sekolah, dan keteladanan. Guru tidak hanya berperan
sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai teladan yang menunjukkan
konsistensi perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Keteladanan guru memiliki
pengaruh besar terhadap pembentukan karakter murid karena anak cenderung
belajar melalui proses meniru.
Budaya sekolah yang mendukung juga menjadi faktor penting dalam membangun
akhlak istiqomah. Pembiasaan berdoa, menjaga kebersihan, melaksanakan tugas
piket, menghormati guru dan teman, serta melaksanakan kegiatan keagamaan secara
rutin merupakan contoh praktik yang dapat menumbuhkan konsistensi perilaku
positif pada murid.
Peran keluarga tidak kalah penting dalam proses ini. Nilai-nilai yang
ditanamkan di sekolah perlu diperkuat melalui pembiasaan di rumah agar murid
memperoleh pengalaman yang konsisten dalam berbagai lingkungan kehidupannya.
Sinergi antara sekolah dan keluarga akan membantu pembentukan akhlak istiqomah
berlangsung lebih efektif dan berkelanjutan.
Dampak Istiqomah dalam Masyarakat
Salah satu nilai akhlak yang memiliki dampak jangka panjang yaitu
istiqomah. Istiqomah merupakan sikap yang konsisten, komitmen, teguh, stabil,
dan gigih dalam berbuat baik atau taat. Dalam bahasa Arab, kata ini berarti
"stabil dalam melangkah". Istiqomah memiliki sinonim konsisten,
konsistensi antara tindakan dan perkataan, tanggung jawab, serta komitmen
terhadap nilai-nilai moral. Penelitian oleh Juthi et al., (2025) menunjukkan
bahwa pendidikan akhlak istiqomah dalam memperkuat kebermaknaan kehidupan. Dengan
penerapan akhlak istiqomah ini, belajar menjadi lebih terarah dan terstruktur.
Kelihatan seperti hal kecil, namun, ketika diistiqomahkan akan berdampak
positif jangka panjang. Islam mengajarkan bahwa perubahan besar lahir dari
kebiasaan kecil yang konsisten. Istiqomah dapat diimplementasikan dengan stabil
dalam melakukan amal sesuai agama Islam, seperti menjaga shalat, puasa, dan
amal saleh kepada sesama makhlukNya meski ada rintangan. Di sekolah dasar
berbasis Islam, pembiasaan sederhana seperti shalat berjamaah, mengaji Quran
minimal satu hari satu ayat, doa bersama, 5S (salam, senyum, sapa, sopan,
santun), dan akhlak harian. Apabila kebiasaan sederhana tersebut dilakukan
rutin, maka akan membentuk akhlak jujur, disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian
sosial. Akhlak istiqomah yang dilatih setiap hari menjadikan murid memiliki
integritas yang tinggi.
Tantangan Istiqomah dalam Pendidikan Sekolah Dasar
Istiqomah dalam pendidikan karakter murid sekolah dasar sangat mungkin
terhambat karena berbagai faktor, mulai dari guru, keluarga, kurikulum, hingga
pengaruh lingkungan digital ataupun sosial. Istiqomah pendidikan karakter di
sekolah dasar dapat terkendala sebab fasilitas yang terbatas, kondisi keluarga
kurang mendukung, serta lingkungan sekitar yang tidak sejalan dengan akhlak
istiqomah yang diterapkan di sekolah. Guru sulit menanamkan akhlak istiqomah
karena waktu belajar didominasi tuntutan akademik, sementara pelatihan,
pedoman, dan alat evaluasi akhlak masih kurang memadai. Upaya berkelanjutan
menumbuhkan kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab terganggu oleh kebiasaan
mencontek, ketidakpatuhan tata tertib, dan pengaruh media digital yang tidak
terkontrol.
Kurangnya keterlibatan orang tua dalam pendampingan, pengawasan, dan teladan sehari‑hari membuat internalisasi nilai karakter di sekolah sulit bertahan konsisten pada diri murid. Kepala sekolah, guru, dan orang tua sering belum semua mempunyai sinergi untuk membangun budaya sekolah berkarakter, sehingga rutinitas positif tidak cukup kuat menjaga keberlanjutan perilaku baik. Integrasi nilai akhlak istiqomah dalam kurikulum, terutama kurikulum merdeka, menghadapi hambatan kompetensi guru dan tekanan capaian akademik yang mengganggu kesinambungan praktik. Istiqomah merupakan akhlak yang menuntut budaya sekolah etis, stabil, keteladanan konsisten, dan penguatan ekosistem pedagogis yang masih lemah pada banyak konteks sekolah dasar Indonesia. Tantangan implementasi akhlak istiqomah murid sekolah dasar yang berasal dari aspek lingkungan keluarga dapat dianalisis dari segi dukungan, pengawasan, dan teladan akhlak yang kurang istiqomah. Tantangan dari aspek guru dan sekolah dasar, bisa dianalisis dari segi keterbatasan waktu, minimnya pelatihan, dan tekanan akademik yang tinggi. Adapun pengaruh eksternal dapat berasal dari faktor media digital, lingkungan sosial masyarakat yang bertentangan dengan nilai sekolah.
Simpulan
Akhlak istiqomah merupakan karakter yang menunjukkan keteguhan dan
konsistensi seseorang dalam menjalankan nilai-nilai kebaikan secara
berkelanjutan. Karakter ini mencakup komitmen terhadap kebenaran, kedisiplinan,
tanggung jawab, ketekunan, dan kerja keras yang tercermin dalam perilaku
sehari-hari. Bagi murid Sekolah Dasar, akhlak istiqomah sangat penting karena
menjadi fondasi pembentukan kebiasaan positif, penguatan karakter moral,
peningkatan prestasi belajar, serta perlindungan dari berbagai pengaruh negatif
lingkungan. Oleh karena itu, implementasi akhlak istiqomah perlu dilakukan
secara holistik melalui pembelajaran, budaya sekolah, keteladanan guru, dan
dukungan keluarga agar terbentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara
akademik, tetapi juga kuat secara moral dan berkarakter mulia.
Daftar Pustaka
Adler, I., Warren, S., Norris, C., & Soloway, E.
(2025). Leveraging opportunities for self-regulated learning in smart learning
environments. Smart Learning Environments, 12(6).
https://doi.org/10.1186/s40561-024-00359-w.
Abdurahman, A., Marzuki, K., Yahya, M. D., Asfahani, A.,
Pratiwi, E. A., & Adam, K. A. (2023). The effect of smartphone uses and
parenting style on the honest character and responsibility of elementary school
students. Jurnal Prima Edukasia, 11(2). https://doi.org/10.21831/jpe.v11i2.60987.
Gentner, N. M., Respondek, L., & Seufert, T. (2024).
Effects of short- and long-term prompting in learning journals on strategy use,
self-efficacy, and learning outcomes. Instructional Science, 52, 919–950. https://doi.org/10.1007/s11251-024-09671-x.
Hadi, R. A., & Suharyat, Y.
(2022). Dakwah dalam
Perspektif Al Qur’an dan Al Hadits. Religion:
Jurnal Agama, Sosial, Dan Budaya, 1(5),
55-66.
Haidt,
J. (2008). Morality. Perspectives on psychological science, 3(1),
65-72.
Hidayat, M. T., Khoirurrosyid, M., Kurniawan, T. R.,
Hening, P. P., Ulya, G. A., & Sain, Z. H. (2023). Raising honest citizens:
A cross-cultural study of moral education in primary schools. Jurnal Prima
Edukasia, 11(2). https://doi.org/10.21831/jpe.v11i2.86059.
Juthi, R. Z., et al (2025). Religious
morality in education for serving the purpose of our life. Islamic
University Journal of Social Sciences, 4(3), 310-340.
Karlen, Y., & Hertel, S. (2024). Inspiring
self-regulated learning in everyday classrooms: Teachers’ professional
competences and promotion of self-regulated learning. Unterrichtswissenschaft,
52, 1–13. https://doi.org/10.1007/s42010-024-00196-3.
Kim, Y. K. (2025). A case of character education based on
the Multi-Tiered System of Support (MTSS): Implications for moral education.
Journal of Moral Ethics Education, 86, 129–155.
https://doi.org/10.18338/kojmee.2025.86.129.
Lenzgeiger, B., Lohrmann, K., & Miller, K. (2024).
Learning during the COVID-19 pandemic: Self-regulated learning at school and at
home from the perspective of primary school students. Zeitschrift fΓΌr
Grundschulforschung, 17, 215–232. https://doi.org/10.1007/s42278-024-00213-5.
Lukman, L., et al. (2024). Strengthening Islamic
Character through Four Integrated Mechanisms in Primary Teacher Education: A
Qualitative Case Study of PGSD Students at UNM Campus V. Jurnal
Pendidikan Islam, 13(2), 193-206.
Okten, I. O., Shen, X., &
Brewton, A. (2026). Beyond morality primacy: Inference of
competence takes the lead in spontaneous impressions. Journal of
Experimental Social Psychology, 125, 104936.
Oldham, P., & McLoughlin, S. (2026). Character
education empirical research: A thematic review and comparative content
analysis. Journal of Moral Education, 55(2), 313–341.
https://doi.org/10.1080/03057240.2025.2480185.
Pangalila, T., & Sakura, H. (2025). Implementation of
character education at SMA Negeri 3 Tondano. Jurnal Kependidikan: Penelitian
Inovasi Pembelajaran, 9(2). https://doi.org/10.21831/jk.v9i2.88482.
Schuler, N., Villiger, C., & KrauΓ, E. (2024).
Effects of a teacher-led intervention fostering self-regulated learning and
reading among 5th and 6th graders—Treatment integrity matters. Education
Sciences, 14(7), 778. https://doi.org/10.3390/educsci14070778.
Silalahi, Sari Muthia. (2024).
Buku Ajar Etika Profesi. Purbalingga : CV. Eureka Media Aksara.
Sugiri, A. (2023). Character education: Strengthening the
character of elementary school students based on Wayang Sukuraga through
practice of noble morals. Jurnal Iqra’: Kajian Ilmu Pendidikan, 8(2), 340–359.
https://doi.org/10.25217/ji.v8i2.3943.
Sumiharsono, R., Nasaruddin, Safrudin, M., &
Ramadhan, S. (2023). Research trends on character education based on Scopus
database from 2018 to 2023: A bibliometric analysis. Edukasi Islami: Jurnal
Pendidikan Islam, 12(2). https://doi.org/10.30868/ei.v12i02.5029.
Syafri, U. A., et al (2026). Teachers
as moral agents in smart education: strengthening ethical and sustainability
values among Muslim students in Singapore. International Journal of
Ethics Education, 1-17.
Wandari, I. O., & Rohana. (2023). Character education
for elementary school students: Creative, ecological conscious, and
communicative. Indonesian Values and Character Education Journal, 6(1), 43–51. https://doi.org/10.23887/ivcej.v6i1.57145.
Wang, M., et al. (2026). An integrative
head–heart–hands model of moral education: evidence from Chinese higher
education. Frontiers in Psychology, 17, 1762483.
Wang, X. (2025). Application of virtual reality (VR) in
moral education. International Journal of Web-Based Learning and Teaching
Technologies, 20(1). https://doi.org/10.4018/IJWLTT.382570.
Yati, F. (2023). Problematika Penentuan Baik Dan Buruk. Saqifah:
Jurnal Hukum Ekonomi Syariah, 8(1), 15-24.
Yaumi, M. (2016). Pendidikan
Karakter: Landasan, Pilar & Implementasi. Prenada
Media.





.png)

