Minggu, 31 Mei 2026

Mengapa Implementasi Akhlak Istiqomah Penting untuk Murid Sekolah Dasar

 

Mengapa Implementasi Akhlak Istiqomah Penting untuk Murid Sekolah Dasar

(Oleh: Naela Zulianti Ashlah)

Pendahuluan

Pentingnya Akhlak    

Pendidikan akhlak memiliki peran yang sangat penting untuk membekali karakter positif murid sekolah dasar sebagai pedoman kehidupan sosial. Pada bidang pendidikan dasar, akhlak merupakan seperangkat nilai yang tertanam kuat pada jiwa warga belajar termasuk murid sekolah dasar, yang dapat diamati melalui pola perkataan dan perbuatan. Apabila perkataan dan perbuatan  murid baik, maka seharusnya diistiqomahkan. Namun sebaliknya, jika perkataan dan perbuatan murid buruk, maka segera kita sebagai gurunya, harus peduli dan memperbaiki dengan melalui nasihat guru, orang tua, ataupun pembekalan melalui sosialisasi kepada murid secara menyeluruh. Pembekalan akhlak menjadi sangat penting karena masa kanak-kanak merupakan tahap awal dan paling menentukan dalam pembentukan kepribadian. Nilai-nilai yang ditanamkan pada jenjang Sekolah Dasar cenderung menetap dan membentuk kebiasaan jangka panjang hingga dewasa.

Salah satu jenis akhlak yang memiliki pengaruh besar yaitu istiqomah. Istiqomah mempunyai keterkaitan dengan kedisiplinan, konsistensi antara perkataan dan perbuatan, tanggung jawab, serta komitmen terhadap akhlak terpuji lainnya. Akhlak istiqomah untuk murid sekolah dasar sangat penting  sebagai pedoman berbuat baik di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang cepat, berbagai persoalan moral mulai muncul sejak usia sekolah, seperti terbiasa mencontek, belum memiliki tanggung jawab terhadap tugas, serta masih rendahnya akhlak istiqomah yang membutuhkan kestabilan berbuat baik sebagai penyeimbang kegiatan belajar di sekolah dasar. Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan akhlak, khususnya akhlak istiqomah, belum sepenuhnya diimplementasikan dengan baik.

Hadi, R. A. dan Suharyat, Y. (2022) menyatakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang secara spontan melakukan perbuatan baik atau buruk berdasarkan ajaran agama Islam berlandaskan Al-Quran dan hadis. Maksudnya, akhlak mempunyai peran penting dalam menentukan apakah seseorang dapat bertindak baik secara istiqomah, disiplin, dan jujur. Oleh sebab itu, istiqomah sebagai salah satu akhlak positif yang sebaiknya ditanamkan secara terstruktur mulai sekolah dasar. Esai ini mengulas mengapa akhlak istiqomah sangat penting bagi murid sekolah dasar dengan mengkaji konsep akhlakul karimah, maksud dan hikmah akhlak istiqomah, indikator istiqomah, serta tantangan pada kehidupan nyata yang harus kita hadapi khususnya dalam dunia pendidikan dasar.

 

Isi

Akhlakul karimah merupakan seperangkat moralitas yang melekat pada diri seseorang, dapat diamati dari pola perkataan ataupun perbuatan bersifat positif. Syafri et al. (2026) memaknai akhlak sebagai perangai, tabiat, kebiasaan, rutinitas, sikap, serta watak dasar manusia yang tercermin dalam perilaku sehari-hari dan menjadi bagian dari kepribadian yang melekat pada diri seseorang. Adapun implementasi akhlak istiqomah yang dapat dilakukan oleh murid sekolah dasar yang beriman misalnya sholat tepat waktu lima kali sehari, membaca Quran minimal satu ayat setiap hari, membaca doa sebelum dan sesudah belajar. Dengan demikian, akhlak melibatkan dimensi afektif, perkataan, dan perilaku nyata, tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan tentang benar atau salah.

Lukman et al. (2024) menguatkan bahwa akhlak istiqomah bukan hanya mengenai “pelaksanaan kebaikan secara konsisten,” pada definisi etis, namun, juga mengenai “kemampuan mempertahankan dan meningkatkan kualitas amal, komitmen, dan nilai-nilai Islam secara berkelanjutan.” Akhlakul karimah dapat mengajarkan bagaimana bersikap dan berperilaku terpuji terhadap orang lain. Berdasarkan pengetahuan empiris, akhlakul istiqomah juga bisa menumbuhkan etos kerja yang tinggi, disiplin, jujur, tanggung jawab, dan sebagai motivasi untuk meningkatkan optimalisasi potensi dalam diri murid sekolah dasar. Akhlak merupakan perpaduan antara kebaikan, kebenaran, moralitas, pedoman yang benar, serta kekuatan sikap dan perilaku yang tercermin melalui perkataan dan aksi nyata seseorang.

Gagasan ini sejalan dengan filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang memberikan pemahaman bahwa pendidikan harus bisa menjadi jembatan atau petunjuk yang memudahkan manusia bisa berkembang secara utuh. Perkembangan akhlak yang dimaksud yaitu sesuai dengan kodrat alam melalui pemanfaaatan potensi fisik ataupun potensi cipta, potensi rasa, potensi raga, dan potensi hati khususnya bagi murid sekolah dasar. Tujuan pemahaman penanaman akhlak yaitu supaya keempat potensi tersebut menjadi nyata dan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak istiqomah menjadi perantara agar dapat mengintegrasikan keempat domain tersebut supaya murid tidak hanya cepat tanggap secara intelektual, namun juga matang secara etika dan mental.

Wang et al (2026) menyatakan bahwa akhlak yang baik terbentuk dari tiga komponen yang saling terkait, yaitu pengetahuan moral (moral knowing), perasaan moral (moral feeling), dan perilaku moral (moral behavior). Ketiga komponen tersebut tidak dapat dipisahkan karena pengetahuan tanpa emosional yang bersumber dari perasaan moral tidak akan mendorong perilaku moral, sementara perilaku moral tanpa dasar pemahaman pendidikan moral dan perasaan moral yang positif berpotensi kehilangan makna etika.

Makna dan Hakikat Akhlak Istiqomah

Akhlak istiqomah merupakan salah satu nilai karakter penting yang perlu ditanamkan sejak usia sekolah dasar. Dalam perspektif pendidikan Islam, istiqomah tidak hanya dimaknai sebagai konsistensi dalam melakukan kebaikan, tetapi juga sebagai keteguhan hati dalam mempertahankan nilai-nilai kebenaran meskipun menghadapi berbagai tantangan. Akhlak istiqomah menjadi fondasi yang menguatkan karakter lain seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kerja keras, dan komitmen moral.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa akhlak merupakan sifat yang tertanam dalam jiwa yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan yang panjang. Dengan demikian, akhlak istiqomah dapat dipahami sebagai kondisi kepribadian yang mendorong seseorang untuk secara konsisten melakukan perbuatan baik berdasarkan nilai-nilai yang diyakininya. Akhlak tidak hanya berkaitan dengan tindakan yang tampak, tetapi juga mencerminkan kualitas batin yang menjadi sumber munculnya perilaku tersebut.

Dalam konteks pendidikan karakter, Wang et al. (2026) menjelaskan bahwa pembentukan perilaku moral yang baik memerlukan keterpaduan antara moral knowing (pengetahuan moral), moral feeling (perasaan moral), dan moral behavior (perilaku moral). Ketiga komponen tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan karena pemahaman terhadap nilai kebaikan harus disertai penghayatan emosional serta diwujudkan dalam tindakan nyata yang konsisten. Pandangan ini menunjukkan bahwa istiqomah bukan sekadar mengetahui apa yang baik, melainkan juga memiliki kemauan dan kebiasaan untuk terus melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.

Istiqomah juga memiliki dimensi pengembangan diri yang kuat. Beberapa kajian pendidikan Islam menjelaskan bahwa istiqomah tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan perilaku baik, tetapi juga berupaya meningkatkan kualitas amal dan kinerja secara berkelanjutan. Dengan kata lain, seseorang yang memiliki akhlak istiqomah tidak merasa cukup hanya dengan memenuhi standar minimal kebaikan, tetapi terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Berdasarkan berbagai pandangan tersebut, akhlak istiqomah dapat disimpulkan sebagai keteguhan dan konsistensi seseorang dalam menjalankan nilai-nilai kebaikan yang tercermin melalui pikiran, sikap, perkataan, dan tindakan secara berkelanjutan. Akhlak istiqomah menjadi landasan penting bagi terbentuknya karakter yang kuat karena menghubungkan aspek pengetahuan, penghayatan, dan praktik moral dalam kehidupan sehari-hari.

Unsur-Unsur Akhlak Istiqomah

Akhlak istiqomah bukanlah nilai tunggal, melainkan terdiri atas beberapa unsur yang saling mendukung. Salah satu unsur utama adalah komitmen terhadap kebenaran. Komitmen ini mendorong individu untuk tetap berpegang pada nilai-nilai yang diyakini benar meskipun menghadapi tekanan dari lingkungan sekitar. Murid yang memiliki komitmen terhadap kebenaran akan berusaha menghindari perilaku curang, berani mengakui kesalahan, dan mempertahankan sikap jujur dalam berbagai situasi.

Unsur berikutnya adalah kedisiplinan. Disiplin mencerminkan kemampuan seseorang untuk mengatur diri, mematuhi aturan, dan melaksanakan kewajiban secara konsisten. Pada usia sekolah dasar, disiplin dapat terlihat dari kebiasaan datang tepat waktu, mengikuti aturan kelas, mengerjakan tugas secara teratur, serta menjaga ketertiban selama proses pembelajaran berlangsung.

Tanggung jawab juga menjadi bagian penting dari akhlak istiqomah. Tanggung jawab berkaitan dengan kesediaan seseorang untuk melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh dan menerima konsekuensi atas tindakannya. Murid yang bertanggung jawab tidak mudah menyalahkan orang lain ketika menghadapi kegagalan, tetapi berusaha memperbaiki kesalahan dan belajar dari pengalaman yang diperoleh.

Selain itu, ketekunan dan kerja keras merupakan indikator penting dalam akhlak istiqomah. Ketekunan membantu murid tetap berusaha mencapai tujuan meskipun menghadapi kesulitan. Sikap ini sangat dibutuhkan dalam proses belajar karena keberhasilan akademik maupun nonakademik tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui usaha yang dilakukan secara berulang dan berkesinambungan.

Pentingnya Akhlak Istiqomah bagi Murid Sekolah Dasar

Sekolah Dasar merupakan fase penting dalam perkembangan karakter anak. Pada tahap ini, anak mulai membentuk kebiasaan, nilai, dan pola perilaku yang berpotensi bertahan hingga dewasa. Oleh karena itu, penanaman akhlak istiqomah sejak dini menjadi sangat penting untuk membantu murid membangun fondasi moral yang kuat.

Akhlak istiqomah berperan dalam membentuk kebiasaan positif yang berkelanjutan. Anak yang terbiasa melakukan kebaikan secara konsisten akan lebih mudah menjadikan perilaku tersebut sebagai bagian dari kehidupannya. Sebaliknya, jika perilaku baik tidak dibiasakan sejak dini, anak berisiko mengalami kesulitan dalam mengembangkan karakter positif pada tahap perkembangan berikutnya.

Selain itu, akhlak istiqomah membantu murid menghadapi berbagai tantangan moral yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena seperti mencontek, berbohong, tidak mengerjakan tugas, atau melanggar aturan sekolah menunjukkan pentingnya pembentukan karakter yang tidak hanya mengajarkan apa yang benar, tetapi juga membiasakan murid untuk melaksanakan kebenaran tersebut secara konsisten.

Akhlak istiqomah juga berkontribusi terhadap peningkatan prestasi belajar. Murid yang memiliki kebiasaan disiplin, tekun, dan bertanggung jawab cenderung lebih mampu mengelola waktu belajar, menyelesaikan tugas dengan baik, dan mempertahankan motivasi dalam mencapai tujuan akademik. Dengan demikian, istiqomah tidak hanya berdampak pada perkembangan moral, tetapi juga mendukung keberhasilan pendidikan secara menyeluruh.

Di sisi lain, akhlak istiqomah berfungsi sebagai benteng dalam menghadapi pengaruh negatif lingkungan. Perkembangan teknologi digital dan media sosial memberikan berbagai peluang sekaligus tantangan bagi anak. Murid yang memiliki keteguhan karakter akan lebih mampu menyaring informasi, mengendalikan diri, dan mengambil keputusan yang sesuai dengan nilai-nilai moral yang telah ditanamkan.

Implementasi Akhlak Istiqomah di Sekolah Dasar

Implementasi akhlak istiqomah perlu dilakukan secara sistematis melalui pembelajaran, budaya sekolah, dan keteladanan. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai teladan yang menunjukkan konsistensi perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Keteladanan guru memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter murid karena anak cenderung belajar melalui proses meniru.

Budaya sekolah yang mendukung juga menjadi faktor penting dalam membangun akhlak istiqomah. Pembiasaan berdoa, menjaga kebersihan, melaksanakan tugas piket, menghormati guru dan teman, serta melaksanakan kegiatan keagamaan secara rutin merupakan contoh praktik yang dapat menumbuhkan konsistensi perilaku positif pada murid.

Peran keluarga tidak kalah penting dalam proses ini. Nilai-nilai yang ditanamkan di sekolah perlu diperkuat melalui pembiasaan di rumah agar murid memperoleh pengalaman yang konsisten dalam berbagai lingkungan kehidupannya. Sinergi antara sekolah dan keluarga akan membantu pembentukan akhlak istiqomah berlangsung lebih efektif dan berkelanjutan.

Dampak Istiqomah dalam Masyarakat

Salah satu nilai akhlak yang memiliki dampak jangka panjang yaitu istiqomah. Istiqomah merupakan sikap yang konsisten, komitmen, teguh, stabil, dan gigih dalam berbuat baik atau taat. Dalam bahasa Arab, kata ini berarti "stabil dalam melangkah". Istiqomah memiliki sinonim konsisten, konsistensi antara tindakan dan perkataan, tanggung jawab, serta komitmen terhadap nilai-nilai moral. Penelitian oleh Juthi et al., (2025) menunjukkan bahwa pendidikan akhlak istiqomah dalam memperkuat kebermaknaan kehidupan. Dengan penerapan akhlak istiqomah ini, belajar menjadi lebih terarah dan terstruktur. Kelihatan seperti hal kecil, namun, ketika diistiqomahkan akan berdampak positif jangka panjang. Islam mengajarkan bahwa perubahan besar lahir dari kebiasaan kecil yang konsisten. Istiqomah dapat diimplementasikan dengan stabil dalam melakukan amal sesuai agama Islam, seperti menjaga shalat, puasa, dan amal saleh kepada sesama makhlukNya meski ada rintangan. Di sekolah dasar berbasis Islam, pembiasaan sederhana seperti shalat berjamaah, mengaji Quran minimal satu hari satu ayat, doa bersama, 5S (salam, senyum, sapa, sopan, santun), dan akhlak harian. Apabila kebiasaan sederhana tersebut dilakukan rutin, maka akan membentuk akhlak jujur, disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Akhlak istiqomah yang dilatih setiap hari menjadikan murid memiliki integritas yang tinggi.

Tantangan Istiqomah dalam Pendidikan Sekolah Dasar

Istiqomah dalam pendidikan karakter murid sekolah dasar sangat mungkin terhambat karena berbagai faktor, mulai dari guru, keluarga, kurikulum, hingga pengaruh lingkungan digital ataupun sosial. Istiqomah pendidikan karakter di sekolah dasar dapat terkendala sebab fasilitas yang terbatas, kondisi keluarga kurang mendukung, serta lingkungan sekitar yang tidak sejalan dengan akhlak istiqomah yang diterapkan di sekolah. Guru sulit menanamkan akhlak istiqomah karena waktu belajar didominasi tuntutan akademik, sementara pelatihan, pedoman, dan alat evaluasi akhlak masih kurang memadai. Upaya berkelanjutan menumbuhkan kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab terganggu oleh kebiasaan mencontek, ketidakpatuhan tata tertib, dan pengaruh media digital yang tidak terkontrol.

Kurangnya keterlibatan orang tua dalam pendampingan, pengawasan, dan teladan sehari‑hari membuat internalisasi nilai karakter di sekolah sulit bertahan konsisten pada diri murid. Kepala sekolah, guru, dan orang tua sering belum semua mempunyai sinergi untuk membangun budaya sekolah berkarakter, sehingga rutinitas positif tidak cukup kuat menjaga keberlanjutan perilaku baik. Integrasi nilai akhlak istiqomah dalam kurikulum, terutama kurikulum merdeka, menghadapi hambatan kompetensi guru dan tekanan capaian akademik yang mengganggu kesinambungan praktik. Istiqomah merupakan akhlak yang menuntut budaya sekolah etis, stabil, keteladanan konsisten, dan penguatan ekosistem pedagogis yang masih lemah pada banyak konteks sekolah dasar Indonesia. Tantangan implementasi akhlak istiqomah murid sekolah dasar yang berasal dari aspek lingkungan keluarga dapat dianalisis dari segi dukungan, pengawasan, dan teladan akhlak yang kurang istiqomah. Tantangan dari aspek guru dan sekolah dasar, bisa dianalisis dari segi keterbatasan waktu,  minimnya pelatihan, dan tekanan akademik yang tinggi. Adapun pengaruh eksternal dapat berasal dari faktor media digital, lingkungan sosial masyarakat yang bertentangan dengan nilai sekolah.

Simpulan

Akhlak istiqomah merupakan karakter yang menunjukkan keteguhan dan konsistensi seseorang dalam menjalankan nilai-nilai kebaikan secara berkelanjutan. Karakter ini mencakup komitmen terhadap kebenaran, kedisiplinan, tanggung jawab, ketekunan, dan kerja keras yang tercermin dalam perilaku sehari-hari. Bagi murid Sekolah Dasar, akhlak istiqomah sangat penting karena menjadi fondasi pembentukan kebiasaan positif, penguatan karakter moral, peningkatan prestasi belajar, serta perlindungan dari berbagai pengaruh negatif lingkungan. Oleh karena itu, implementasi akhlak istiqomah perlu dilakukan secara holistik melalui pembelajaran, budaya sekolah, keteladanan guru, dan dukungan keluarga agar terbentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara moral dan berkarakter mulia.

 

Daftar Pustaka

Adler, I., Warren, S., Norris, C., & Soloway, E. (2025). Leveraging opportunities for self-regulated learning in smart learning environments. Smart Learning Environments, 12(6). https://doi.org/10.1186/s40561-024-00359-w.

Abdurahman, A., Marzuki, K., Yahya, M. D., Asfahani, A., Pratiwi, E. A., & Adam, K. A. (2023). The effect of smartphone uses and parenting style on the honest character and responsibility of elementary school students. Jurnal Prima Edukasia, 11(2). https://doi.org/10.21831/jpe.v11i2.60987.

Gentner, N. M., Respondek, L., & Seufert, T. (2024). Effects of short- and long-term prompting in learning journals on strategy use, self-efficacy, and learning outcomes. Instructional Science, 52, 919–950. https://doi.org/10.1007/s11251-024-09671-x.

Hadi, R. A., & Suharyat, Y. (2022). Dakwah dalam Perspektif Al Qur’an dan Al Hadits. Religion: Jurnal Agama, Sosial, Dan Budaya1(5), 55-66.

Haidt, J. (2008). Morality. Perspectives on psychological science3(1), 65-72.

Hidayat, M. T., Khoirurrosyid, M., Kurniawan, T. R., Hening, P. P., Ulya, G. A., & Sain, Z. H. (2023). Raising honest citizens: A cross-cultural study of moral education in primary schools. Jurnal Prima Edukasia, 11(2). https://doi.org/10.21831/jpe.v11i2.86059.

Juthi, R. Z., et al (2025). Religious morality in education for serving the purpose of our life. Islamic University Journal of Social Sciences4(3), 310-340.

Karlen, Y., & Hertel, S. (2024). Inspiring self-regulated learning in everyday classrooms: Teachers’ professional competences and promotion of self-regulated learning. Unterrichtswissenschaft, 52, 1–13. https://doi.org/10.1007/s42010-024-00196-3.

Kim, Y. K. (2025). A case of character education based on the Multi-Tiered System of Support (MTSS): Implications for moral education. Journal of Moral Ethics Education, 86, 129–155. https://doi.org/10.18338/kojmee.2025.86.129.

Lenzgeiger, B., Lohrmann, K., & Miller, K. (2024). Learning during the COVID-19 pandemic: Self-regulated learning at school and at home from the perspective of primary school students. Zeitschrift für Grundschulforschung, 17, 215–232. https://doi.org/10.1007/s42278-024-00213-5.

Lukman, L., et al. (2024). Strengthening Islamic Character through Four Integrated Mechanisms in Primary Teacher Education: A Qualitative Case Study of PGSD Students at UNM Campus V. Jurnal Pendidikan Islam13(2), 193-206.

Okten, I. O., Shen, X., & Brewton, A. (2026). Beyond morality primacy: Inference of competence takes the lead in spontaneous impressions. Journal of Experimental Social Psychology125, 104936.

Oldham, P., & McLoughlin, S. (2026). Character education empirical research: A thematic review and comparative content analysis. Journal of Moral Education, 55(2), 313–341. https://doi.org/10.1080/03057240.2025.2480185.

Pangalila, T., & Sakura, H. (2025). Implementation of character education at SMA Negeri 3 Tondano. Jurnal Kependidikan: Penelitian Inovasi Pembelajaran, 9(2). https://doi.org/10.21831/jk.v9i2.88482.

Schuler, N., Villiger, C., & Krauß, E. (2024). Effects of a teacher-led intervention fostering self-regulated learning and reading among 5th and 6th graders—Treatment integrity matters. Education Sciences, 14(7), 778. https://doi.org/10.3390/educsci14070778.

Silalahi, Sari Muthia. (2024). Buku Ajar Etika Profesi. Purbalingga : CV. Eureka Media Aksara.

Sugiri, A. (2023). Character education: Strengthening the character of elementary school students based on Wayang Sukuraga through practice of noble morals. Jurnal Iqra’: Kajian Ilmu Pendidikan, 8(2), 340–359. https://doi.org/10.25217/ji.v8i2.3943.

Sumiharsono, R., Nasaruddin, Safrudin, M., & Ramadhan, S. (2023). Research trends on character education based on Scopus database from 2018 to 2023: A bibliometric analysis. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 12(2). https://doi.org/10.30868/ei.v12i02.5029.

Syafri, U. A., et al (2026). Teachers as moral agents in smart education: strengthening ethical and sustainability values among Muslim students in Singapore. International Journal of Ethics Education, 1-17.

Wandari, I. O., & Rohana. (2023). Character education for elementary school students: Creative, ecological conscious, and communicative. Indonesian Values and Character Education Journal, 6(1), 43–51. https://doi.org/10.23887/ivcej.v6i1.57145.

Wang, M., et al. (2026). An integrative head–heart–hands model of moral education: evidence from Chinese higher education. Frontiers in Psychology17, 1762483.

Wang, X. (2025). Application of virtual reality (VR) in moral education. International Journal of Web-Based Learning and Teaching Technologies, 20(1). https://doi.org/10.4018/IJWLTT.382570.

Yati, F. (2023). Problematika Penentuan Baik Dan Buruk. Saqifah: Jurnal Hukum Ekonomi Syariah, 8(1), 15-24.

Yaumi, M. (2016). Pendidikan Karakter: Landasan, Pilar & Implementasi. Prenada Media.

Minggu, 17 Mei 2026

Pantun : Natural

Natural


Sumber Gambar. ChatGPT
 

Eduwisata kami ke Losari,
batin senang melihat pantai,
serempak ilmu terus dicari,
interaksi alami penuh damai.


Murid-murid, mengapa orang yang sedang belajar kehidupannya terasa damai? Ayo analisis!

PUISI : Pembelajar Sepanjang Hayat

 Pembelajar Sepanjang Hayat

Sumber Gambar. Vietnam.vn


Wahai Dzat Yang Maha Berkuasa,

terima kasih atas segala nikmatMu,

Engkau menghadiahkanku anugerah,

tentu, tak semua makhlukMu.


AnugerahMu mengingatkan diriku,

Wahai Pencipta Alam Semesta, 

sangat bermakna mutiara ilmu,

terpatri sepanjang hidup kita.


Percaya pada Mu,

saat yang tepat,

Kau hiasi permadani laku,

bekal dunia hingga akhirat.


Murid-murid, ayo tuliskan apa saja pesan moral dari puisi tersebut!

Mengapa Implementasi Akhlak Istiqomah Penting untuk Murid Sekolah Dasar

  Mengapa Implementasi Akhlak Istiqomah Penting untuk Murid Sekolah Dasar (Oleh: Naela Zulianti Ashlah) Pendahuluan Pentingnya Akhlak...