Selasa, 14 Oktober 2025

Cerpen : Bejo Versus Kamandanu

 

Bejo Versus Kamandanu

Naela Zulianti Ashlah

 

Suatu malam, Kamandanu bekerja sama dengan sahabat-sahabatnya. Mereka tidak akan membiarkan satu hari saja berlalu tanpa membuat jebakan batman untuk teman-temannya. Kejadian ini dimulai sejak Bejo, anak kecil yang duduk di bangku kelas tiga SD Pelita, keluar dari rumah Bu Cahaya, setelah bimbingan belajar. Kisah menjengkelkan yang akan diingat oleh Bejo bahkan hingga tua kelak.

 

Selesai belajar, Bejo bergegas menuju tempat parkir untuk mengambil sepedanya. Namun, ternyata, sepedanya tidak ada. Bejo langsung mencari sepedanya dari satu rumah tetangga Bu Cahaya ke rumah tetangga berikutnya.

“Di manaaa sepeda Bejo? Siapa yang menyembunyikan? Kembalikan!” ucap Bejo dengan lantang.

“Lutut lihat, mata tidak,” ejek Kamandanu beserta sahabat-sahabatnya dengan kompak.

 

Tanpa berpikir lama, Bejo, bergegas untuk bertanya pada Pak Ahmad dan Pak Wijaya yang sedang duduk santai di pos Gang Asa.

“Permisi, Pak Ahmad, apakah ada sepeda Bejo di halaman rumah Bapak?” tanya Bejo kepada Pak Ahmad.

Silakan, cari sendiri sepedamu Bejo! Pak Ahmad cari udara segar dulu di sini.” jawab Pak Ahmad.

“Mohon izin juga Pak Wijaya, Bejo cari di depan rumah Bapak,” kata Bejo.

“Boleh, silakan, Bejo. Sebelah pekarangan bunga Asoka Merah ada tempat cukup luas, mungkin saja sepedamu ada di situ,” jelas Pak Wijaya.

“Baik, Bapak. Coba saya cari di sana. Terima kasih.” ucap Bejo.

Setelah cukup lama mencari, akhirnya sepeda Bejo dapat ditemukan.

Beberapa saat kemudian.

“Mau ke mana?” tanya Kamandanu kepada Bejo.

“Permiiiiisiiiiii! Permiiisii! Permiiisiii! Mau pulaaaang!” teriak Bejo.

Tanpa berlama-lama, sahabat-sahabat Kamandanu mencari tempat strategis di berbagai penjuru hingga tidak ada cela sedikit pun bagi Bejo untuk bisa melangkah.

Sangat mengganggu,” gumam Bejo dalam hati.

Weeh tidak bisa, mau lewat mana?” ejek Kamandanu beserta teman-temannya.

“Permiiiiisiiii! Peeerrrmiiiisiii! Mau pulaaaang, toloooong! Toloooong! Toooolooooooong!” teriak Bejo dengan lantang.

Bejo berusaha mengubah arah tubuhnya. Namun, sahabat-sahabat Kamandanu sudah siap mengepung arah balik Bejo laksana kilat menyambar.

Oplek, operasi wong elek. Kegiatan ini lain dari yang lain. Kamandanu dan teman-temannya berhasil mengisi memori Bejo yang hendak menuju rumahnya.

Setelah penghambatan jalan yang harus ditemukan titik celahnya, tak lama kemudian...

“Kabuuurrr!” berontak Bejo menerobos pertahanan kuat Kamandanu dan sahabat-sahabatnya.

“Tunggu besok ya, akan lebih puuuuaaaaaarah dari hari ini!” (teriak kencang Kamandanu dan sahabat-sahabatnya.)

“Masa iya.” pungkas Bejo.

 


Saya dilahirkan dari keluarga sederhana. Diberi orang tua nama lengkap Naela Zulianti Ashlah, panggil Naela boleh. Menjadi anak pertama dari Ayah Asis Suwandi dan Ibu hebat, namanya Siti Maf’ulah. Keduanya bekerja di pabrik New Era Gresik. Saat kelahiran saya, termasuk satu-satunya cicit yang ditunggu oleh Mbok Arliyah, dari tiga puluh empat cicit. Beliau sangat baik kepada saya. Masih teringat dengan jelas, Mbok Yah senang jika saya bawakan bunga cempaka, yang saya petik di depan rumah, yang hingga saat ini, masih subur.

 Asalnya, Saya bercita-cita menjadi dokter karena menyukai materi dan praktik ilmu pasti, seperti Fisika, Biologi, dan Matematika baik peminatan maupun wajib. Saat ini, cita-cita itu berubah menjadi profesi yang memegang ujung tombak generasi tunas bangsa. Terlebih, sekarang sedang gencar mempersiapkan Indonesia Emas 2045.


Bagaimana cara tokoh menghadapi hambatan tersebut? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Puisi : Takjub, HadiahMu Spektakuler

Takjub, HadiahMu Spektakuler Naela Zulianti Ashlah Wow! kejutan apa ini? hadiah tak terduga, sempat terbesit, sangat berkesan ya. Kamis, 19 ...