Bejo Versus Kamandanu
Naela Zulianti Ashlah
Suatu malam, Kamandanu bekerja sama
dengan sahabat-sahabatnya. Mereka tidak akan membiarkan satu hari saja berlalu
tanpa membuat jebakan batman untuk teman-temannya. Kejadian ini dimulai sejak
Bejo, anak kecil yang duduk di bangku kelas tiga SD Pelita, keluar dari rumah
Bu Cahaya, setelah bimbingan belajar. Kisah menjengkelkan yang akan diingat
oleh Bejo bahkan hingga tua kelak.
Selesai belajar, Bejo bergegas
menuju tempat parkir untuk mengambil sepedanya. Namun, ternyata, sepedanya tidak ada. Bejo langsung
mencari sepedanya dari satu rumah tetangga Bu Cahaya ke rumah tetangga
berikutnya.
“Di manaaa sepeda Bejo? Siapa yang
menyembunyikan? Kembalikan!”
ucap Bejo dengan lantang.
“Lutut lihat, mata tidak,” ejek Kamandanu beserta sahabat-sahabatnya
dengan kompak.
Tanpa berpikir lama, Bejo, bergegas
untuk bertanya pada Pak Ahmad dan Pak Wijaya yang sedang duduk santai di pos
Gang Asa.
“Permisi, Pak Ahmad, apakah ada
sepeda Bejo di halaman rumah Bapak?” tanya Bejo kepada Pak Ahmad.
“Silakan, cari sendiri sepedamu Bejo!
Pak Ahmad cari udara segar dulu di sini.” jawab Pak Ahmad.
“Mohon izin juga Pak Wijaya, Bejo
cari di depan rumah Bapak,” kata Bejo.
“Boleh, silakan, Bejo. Sebelah
pekarangan bunga Asoka Merah ada tempat cukup luas, mungkin saja sepedamu ada
di situ,” jelas Pak Wijaya.
“Baik, Bapak. Coba saya cari di
sana. Terima kasih.” ucap Bejo.
Setelah cukup lama mencari,
akhirnya sepeda Bejo dapat ditemukan.
Beberapa saat kemudian.
“Mau
ke mana?” tanya
Kamandanu kepada Bejo.
“Permiiiiisiiiiii!
Permiiisii! Permiiisiii! Mau pulaaaang!” teriak Bejo.
Tanpa berlama-lama, sahabat-sahabat Kamandanu mencari tempat strategis di berbagai penjuru hingga tidak ada cela
sedikit pun bagi Bejo untuk bisa melangkah.
“Sangat mengganggu,” gumam Bejo dalam hati.
“Weeh
tidak bisa, mau lewat mana?” ejek Kamandanu beserta teman-temannya.
“Permiiiiisiiii! Peeerrrmiiiisiii!
Mau pulaaaang, toloooong! Toloooong! Toooolooooooong!” teriak Bejo dengan
lantang.
Bejo berusaha mengubah arah
tubuhnya. Namun, sahabat-sahabat Kamandanu sudah siap mengepung arah balik Bejo
laksana kilat menyambar.
Oplek, operasi wong elek. Kegiatan ini lain dari yang lain.
Kamandanu dan teman-temannya berhasil mengisi memori Bejo yang hendak menuju
rumahnya.
Setelah
penghambatan jalan yang harus ditemukan titik celahnya, tak lama kemudian...
“Kabuuurrr!” berontak Bejo menerobos
pertahanan kuat Kamandanu dan sahabat-sahabatnya.
“Tunggu
besok ya, akan lebih puuuuaaaaaarah dari hari ini!” (teriak kencang Kamandanu
dan sahabat-sahabatnya.)
“Masa iya.” pungkas Bejo.
Saya dilahirkan dari keluarga sederhana. Diberi orang tua nama lengkap Naela Zulianti Ashlah, panggil Naela boleh. Menjadi anak pertama dari Ayah Asis Suwandi dan Ibu hebat, namanya Siti Maf’ulah. Keduanya bekerja di pabrik New Era Gresik. Saat kelahiran saya, termasuk satu-satunya cicit yang ditunggu oleh Mbok Arliyah, dari tiga puluh empat cicit. Beliau sangat baik kepada saya. Masih teringat dengan jelas, Mbok Yah senang jika saya bawakan bunga cempaka, yang saya petik di depan rumah, yang hingga saat ini, masih subur.
Bagaimana cara tokoh menghadapi hambatan tersebut?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar